“Tahun 1964/1965, saya diajak ikut kursus Kristologi yang diberikan pak M. Natsir, seorang muslim khatib, ketua pengurus suatu organisasi kepemudaan yang kemudian saya ikut organisasi kepemudaan. Tahun 1970/1974, saya diajak untuk ikut pertemuan organisasi di SMP yang ada di rengat, katanya organisasi tidak butuh kader penjilat dan penakut tapi kader istiqamah. Tahun 1974/1977, saya dibina oleh organisasi, katanya omong kosong orang bisa aktif di organisasi bila tida ada tempat bertemu dan tempat mencari nafkah. Katanya kepada saya, buat sekolah tempat mengajar dan bertemu aktifis organisasi. Tahun 1978/1980, saya dinima oleh organisasi, katanya di organisasi tempat beramal dan berwaqaf serta jadi pelayan.”

“Tahun 1980/1983, saya dibina organisasi, katanya organisasi tempat penampungan orang – orang pensiun, agar tetap sehat karena masih merasa hidup berguna, saya tinggal di panti putera organisasi. Tahun 1985/1988, saya dibina organisasi, katanya organisasi membutuhkan orang yang betul-betul faham organisasi dan mau turun ke pelosok-pelosok, mengaji dan membina ranting dan cabang organisasi, dalam kelakarnya kalau ke Jakarta banyak yang mau malah ¬†minta-minta. Tahun 1990/1995, saya dibina organisasi, katanya di organisasi mutlak harus ada orang yang ikhlas dan tak perlu banyak, cukup satu atau dua saja agar organisasi tidak ditinggalkan jamaahnya.”

“saya berusaha membina keluarga saya agar mandiri dan tidak jadi pengemis, jika anak-anak saya emosional, itu bukan keinginan dan restu saya, maafkanlah mereka, mungkin mereka tidak tahan mendengarkan ayahnya difitnah dan dihina”(Renungan malam sang pendiri Pondok Pesantren)

Prof. HA.Malik Fadjar menyatakan bahwa ” Semangat mereka memang luar biasa, kepentingan masyarakat dan organisasi mereka utamakan ketimbang kepentingan diri sendiri dan mungkin keluarganya”.

“Mereka bisa merintis berdirinya organisasi di tempat mereka belum dan bahkan melahirkan amal usaha. Kalau melihat pejuangan mereka yang gigih saat merintis ¬†organisasi dengan korban waktu, tenaga, pikiran dan bahkan hartanya, saya merasa sedih jika setelah jadi rintisannya kemudian (dia) disingkirkan. biarkan mereka menikmati hasil rintisannya, tidak hanya orang lain yang menikmati tanpa tahu sakit dan sulitnya mendirikan organisasi. Kata malik Fajar: kalau saya biarkan mereka terus berperan dan bahkan memimpin asal masih kreatif dan membawa ke arah kemajuan dan menyiapkan kader untuk memimpin usaha tersebut. Baru ketika kader organisasi penerus sudah mencukupi dan bisa dipercaya bolehlah ada pembatasan prodisasi. itupun bagi pimpinan yang pas hebat-hebatnya memimpin organisasi jangan dipotong, berikan dispensasi untuk melakukan ide-idenya yang belum tuntas.”.