TEAM: DOSEN DAN MAHASISWA ANGKATAN TAHUN 2018

DOSEN: Ns. ISNANIAR, S.Kep,M.Kep

Ns. YENI YARNITA, S.Kep,M.Kep

Ns. PRATIWI GASRIL, S.Kep,M.Kep

Ns. TRI SIWI KUSUMANINGRUM, S.Kep,M.Kes

JULI WIDIYANTO, S.Kep,M.Kes

Kesehatan merupakan salah satu unsur dasar kesejahteraan keluarga dalam
memperbaiki tingkat sosial ekonomi masyarakat. Tuberkulosis paru merupakan
salah satu penyakit menular kronis yang masih menjadi masalah utama kesehatan
dunia dan menjadi isu global juga menjadi penyebab utama kematian. Penyakit
tuberkulosis di Indonesia termasuk salah satu prioritas nasional maupun
internasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas
terhadap kualitas hidup dan ekonomi serta sering mengakibatkan kematian. WHO
menetapkan salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs) adalah
penemuan minimal 70% dan keberhasilam pengobatan tuberkulosa mencapai
90%. ( Kemenkes 2012 dalam AP Zainita, 2019).
Di Indonesia, TBC merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.
Jumlah pasien TBC di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India
dan Cina. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan
kematian 101.000 orang (Anonim, 2007 dalam Nah Kusuma, 2011).
Di Indonesia dengan prevalensi TBC positif 0,22% (laporan WHO 1998
dalam Nah Kusuma, 2011), penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang
setiap tahun mortalitasnya cukup tinggi. Kawasan Indonesia timur banyak
ditemukan terutama gizi makanannya tidak memadai dan hidup dalam keadaan
sosial ekonomi dan higiene dibawah normal (Tjay dan Rahardja, 2007 dalam
Nah Kusuma , 2011).
Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ke-3 sedunia dalam
hal jumlah penderita tuberkulosis. Berdasarkan Data Badan Kesehatan Dunia
(WHO) pada tahun 2007 dalam Nah Kusuma,2011 menyatakan jumlah
penderita tuberkulosis di Indonesia sekitar 528.000. Laporan WHO pada tahun
2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah
penderita TBC sebanyak 429.000 orang. Pada Global Report WHO 2010, didapat
data TBC Indonesia, total seluruh kasus TBC tahun 2009 sebanyak 294.731 kasus,

dimana 169.213 adalah kasus TBC baru BTA positif, 108.616 adalah kasus TBC
BTA negatif, 11.215 adalah kasus TBC ekstra paru, 3.709 adalah kasus TBC
kambuh, dan 1.978 adalah kasus pengobatan ulang diluar kasus kambuh
(Anonimc, 2011).sebesar 7,7%. Prevalensi stroke antara laki-laki dengan
perempuan hampir sama (Kemenkes, 2013 dalam Nah Kusuma, 2011).
Di Indonesia jumlah penderita Tuberkulosis paru pada tahun 2016 kasus
terbesar berada di Jawa Barat. Provinsi Jawa timur berada di nomer 2 (Kemenkes,
2016). Di Yogyakarta Jumlah penemuan kasus baru TB BTA (+) PWS Kota
Yogyakarta sedikit menurun pada tahun 2014 dibanding tahun 2013. Di
Kabupaten Bantul penemuan kasus TB BTA Positif pada Tahun 2015 sebesar
66,80 % naik dibandingkan Tahun 2014 yang dilaporkan sebesar 44,19 %. Angka
kesembuhan (Cure rate) pada tahun 2014 dilaporkan sebesar 63,39 %. Angka
kesembuhan pengobatan TB di Kabupaten Bantul pada Tahun 2015 turun bila
dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 82,19 dan angka kesembuhan ini juga
berada di bawah target Nasional (85%). Kecamatan dengan jumlah kasus
terbanyak ada di Puskesmas Sewon I ( Dinkes Bantul, 2016 dalam AP Zainita,
2019).
Elemen penting dalam program penanggulangan tuberkulosis adalah
diagnosis dini dan pemberian pengobatan yang tepat dan cepat. Apabila terlambat
mendiagnosis dan terlambat melakukan pengobatan maka dapat menjadi sumber
penularan dan meningkatkan periode penularan dalam masyarakat. Keterlambatan
penegakan diagnosis TB paru akan berisiko meningkatkan transmisi penularan
infeksi yang luas dan berkepanjangan, meningkatkan risiko kematian serta
berpotensi memperburuk keadaan ekonomi pasien maupun keluarga. Di samping
itu, dapat menyebabkan penyakit lebih berat, komplikasi lebih banyak, dan angka
kematian meningkat. TB dengan komplikasi lebih banyak contoh komplikasi TB
dengan batuk darah, TB dengan penyakit pneumotoraks, TB dengan luluh paru,
TB dengan Diabetes Mellitus, TB dengan gagal jantung, dan TB dengan efusi
pleura.
Keterlambatan pengobatan pasien (treatment delay) tuberkulosis paru dapat
berasal dari pasien itu sendiri (patient delay), dari petugas kesehatan (provider
delay) dan sistem pelayanan (health system delay). Keterlambatan penegakan

diagnosis dipengaruhi oleh dua aspek utama yaitu aspek penderita (patient delay)
dan system pelayanan kesehatan (yankes/health care system’s delay).
Keterlambatan pasien (patient delay) merupakan awal terjadinya delay dan
penyebab diagnosis delay dan treatment delay.
Keterlambatan pasien (patient delay) yaitu bila periode mulai dari pasien
mengeluhkan gejala yang relevan dengan TB sampai datang pertama kali ke
sarana kesehatan melebihi satu waktu tertentu. Beberapa peneliti mendefinisikan
keterlambatan pasien sebagai rentang waktu antara pasien pertama mengalami
keluhan yang relevan dengan TB sampai saat pertama kali berobat ke sarana
kesehatan. Keterlambatan pasien (patient’s delay) dihitung bila periode mulai
gejala awal sampai dengan kunjungan pertama ke sarana kesehatan lebih dari 21
hari.
Berdasarkan data di atas, maka mahasiswa tertarik untuk mengadakan
penyuluhan kesehatan tentang TB Paru karena yang paling banyak terdapat di
masyarakat maupun di ruangan Jasmin adalah TB Paru yang bertujuan untuk
memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat terkait tentang TB Paru
ini yang disebabkan oleh bakteri Myobacterium tuberculosis sehingga masyarakat
tesebut dapat mengetahui tentang gejala awal dari penyakit ini. Dan masyarakat
bias mendeteksi dini jika merasakan ada keluhan atau gejala dari TB Paru ini
sehingga dapat secepatnya untuk di cegah dan disembuhkan.
B. Tujuan

  1. Tujuan Umum
    Setelah diberikan penyuluhan melalui sosial media, sasaran
    diharapkan memahami tentang stroke iskemik, termotivasi, dan
    melakukan gaya hidup sehat sehingga terhindar dari stroke iskemik.
  2. Tujuan Khusus Setelah mengikuti kegiatan senam stroke diharapkan para masyarakat :a. Menjelaskan TB Paru dengan benar
    b. Menyebutkan Penyebab TB Paru dengan benar.
    c. Menyebutkan Manifestasi Klinik TB Paru dengan benar.
    d. Menyebutkan Komplikasi dari TB Paru dengan benar

e. Menjelaskan Pencegahan dari TB Paru dengan benar
f. Menjelaskan Pengobatan yang dapat di lakukan pada TB Paru dengan
benar
g. Meningkatkan motivasi masyarakat untuk menjaga kesehatan dan
menerapkan gaya hidup sehat

  1. e. Mengikuti gerakan senam stroke dengan benar 8. f. Memperagakan gerakan senam stroke dengan benar 9. Mengikuti gerakan senam stroke dengan benar 10. f. Memperagakan gerakan senam stroke dengan benar 11. Mengikuti gerakan senam stroke dengan benar 12. f. Memperagakan gerakan senam stroke dengan benar C. Rancangan Kegiatan 1. Topik : Penyuluhan Kesehatan tentang TB Paru
  2. Sasaran : Masyarakat yang memiliki sosial media dan
    membacanya
  3. Metode : Memposting berupa poster dan video di sosial
    media dan Tanya jawab
  4. Media dan Alat : Video, Slide Powerpoint, Poster
  5. Waktu dan Tempat
    Hari/Tanggal : Selasa, 16 Juni 2020
    Jam : 10.00 WIB s/d Selesai
    Tempat : Sosial Media
  6. Pengorganisasian
  • Pembuatan Pre planning : Desti Arnita Juandri
  • Pembuatan Laporan Hasil : Rini Anggraini
  • Pembuatan Video : Roma Dela BR Manik
  • Pembuatan Poster : Rika Diyah Nuraini
  • Pembuatan Power Point : Chyntya Dwi Rahmadani
  • Mencari Referensi dan Materi : Abby Zuhari & Reka Defita

Uraian Tugas
Semua Mahasiswa memposting poster di sosial media masing-masing
seperti Instagram, Facebook, Twitter. Kemudian masing-masing mahasiswa
membuat caption yang menarik sehingga calon reader tertarik untuk
membaca poster di post. Lalu masing-masing mahasiswa juga memberikan
waktu untuk para reader untuk bertanya terkait materi yang disampaikan di
kolom komentar dan mahasiswa menjawab pertanyaan yang muncul.
E. Evaluasi

  1. Evaluasi Struktur
  • 50 % masyarakat membaca postingan yang diberikan oleh
    mahasiswa
  • Waktu, media dan alat telah tersedia sesuai rencana
  • Peran dan tugas mahasiswa sesuai perencanaan
  1. Evaluasi Proses
  • Pelaksanaan kegiatan penyuluhan kesehatan sesuai dengan yang
    direncanakan
  • Peserta dapat mengikuti seluruh kegiatan penyuluhan dengan
    semangat
  • Peserta berperan aktif selama jalannya kegiatan
  1. Evaluasi Hasil
    Diharapkan peserta penyuluhan kesehatan mampu memahami tentang :
  • Pengertian TB Paru
  • Penyebab/Etiologi TB Paru
  • Manifestasi Klinis TB Paru
  • Komplikasi dari TB Paru
  • Pencegahan TB Paru
  • Cara Pengobatan TB Paru